Ini dia proyek JCM pertama disetujui di Indonesia

JAKARTA. Indonesia dan Jepang akhirnya menyetujui proyek Joint Crediting Mechanism (JCM) yang pertama di dunia. Pada pertemuan Komite Bersama JCM yang diselenggarakan pada tanggal 31 Oktober 2014 di Bogor. 

Kedua pihak akhirnya menyetujui proposal yang diusulkan, yaitu proyek “Penghematan energi untuk pendingin udara dan proses pada pabrik tekstil” yang dikembangkan oleh Ebara dan PT Primatexco, sebagai proyek JCM. 

  
 

Mekanisme JCM merupakan kerjasama bilateral yang mengedepankan investasi berwawasan lingkungan untuk mendukung pembangunan rendah karbon. Untuk mencapai target penurunan emisi di negaranya, Jepang melakukan investasi kegiatan penurunan emisi di negara berkembang, melalui mekanisme baru yang disebut JCM.  

Mekanisme ini telah disepakati oleh Pemerintah Indonesia dan Jepang melalui penandatanganan dokumen kesepakatan pada tanggal 26 Agustus 2013. Dalam perkembangannya sejak tahun 2010 hingga sekarang, Jepang telah melaksanakan 75 studi kelayakan proyek di bidang energi terbarukan (yang berasal dari sumber panas bumi, hidro, dan biomasa), efisiensi energi, transportasi rendah karbon, Carbon Captured and Storage (CCS), pertanian rendah karbon, dan kegiatan berbasis kehutanan. 

“Melalui JCM diharapkan kegiatan investasi Jepang di Indonesia akan meningkat baik dari sisi volume maupun kualitasnya, termasuk pemanfaatan teknologi yang ramah lingkungan dan hemat energi.  JCM merupakan wujud nyata dari komitmen kedua negara dalam menangani masalah perubahan iklim, khususnya  melalui proyek-proyek rendah emisi karbon” kata Rizal Affandi Lukman, Deputi Bidang Kerjasama Ekonomi Internasional, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian melalui siaran pers, Selasa (4/11). 

PT Primatexco Indonesia, yang terletak di Kota Batang, Jawa Tengah, bekerja sama dengan Ebara Refrigeration Equipment & Systems, Nippon Koei mengajukan proposal kegiatan “Penghematan energi untuk pendingin udara dan proses pada pabrik tekstil” untuk dinilai kelayakannya sebagai proyek  JCM. Setelah melalui serangkaian penilaian atas dokumen rancangan proyek yang diajukan, maka akhirnya proyek ini disetujui sebagai proyek JCM pertama di Indonesia, bahkan pertama di dunia. Selanjutnya proyek ini siap masuk ke tahap implementasi. 

Dengan menggunakan sistem pendingin yang memiliki efisiensi tinggi, diperkirakan proyek ini dapat memberikan penghematan energi sebesar 965 MWh dan menurunkan emisi sebesar 730 ton karbon dioksida selama periode pelaksanaan proyek tahun 2014 - 2020. 

 “Melalui mekanisme JCM, investasi teknologi bersih di Indonesia akan mendapat dorongan baru untuk perkembangannya. Ini sejalan dengan tugas DNPI untuk mendorong pendanaan internasional dan alih teknologi guna menyikapi perubahan iklim dan kami bangga telah turut terlibat dalam perumusan mekanisme ini.” kata Rachmat Witoelar, Ketua Harian Dewan Nasional Perubahan Iklim (DNPI). 

 

Selain studi-studi kelayakan yang telah dilakukan, saat ini terdapat tujuh proyek percontohan yang siap untuk menjadi proyek JCM dan menuju tahap implementasi. JCM merupakan satu skema alternatif untuk mendukung investasi dalam pembangunan rendah karbon dan dapat menjadi katalis dalam pengembangan skema perdagangan karbon jenis baru di bawah UNFCCC guna mendukung pengendalian emisi gas rumah kaca dan pembangunan berkelanjutan. 

 

Menu